Aktor Koo Kyo-hwan dan Go Youn-jung memikat penonton global dengan menampilkan ‘narasi penebusan’ yang secara jernih membagikan emosi paling dasar.
Dalam drama akhir pekan JTBC 모두가 자신의 무가치함과 싸우고 있다 (selanjutnya disebut 모자무싸), Hwang Dong-man (Koo Kyo-hwan) dan Byun Eun-ah (Go Youn-jung) menembus hati pemirsa lewat solidaritas ‘silang lampu hijau’ yang saling mengisi kekurangan satu sama lain.
Menurut situs resmi Netflix, Tudum, berdasarkan waktu tonton selama sepekan dari tanggal 20 hingga 26, serial ini menempati peringkat 1 di kategori ‘Top 10 Acara Korea’, membuktikan popularitasnya. Melampaui sekadar populer, analisis mendalam dan empati penonton terhadap narasi penebusan dalam karya ini pun mengalir deras. Di tengah itu, mari menelusuri garis emosi dua tokoh yang saling menambal kekosongan masing-masing.
Sehari-hari Hwang Dong-man adalah pertarungan tanpa henti melawan kegelisahan. Begitu ia sedikit saja hening, suara monster yang berbisik “kamu tidak punya nilai untuk ada” kembali muncul, jadi ia terus saja berceloteh untuk menekannya. Saat ia duduk memaksa di antara teman-teman yang sebenarnya tak menyambutnya, arloji emosi tanpa meleset menampilkan ‘cemas’. Meski ia mencoba mengalahkan rasa cemas itu dengan tertawa dan bercanda sampai nyaris meneteskan air mata, arloji emosi hanya berkata ‘bosan’. Terlebih, setelah menerima cacian merendahkan dari CEO Choi Film, Choi Dong-hyun (Choi Won-young), yang menyuruhnya berhenti, ‘lapar’ yang menggila makin menelanjangi kekurangannya. Usaha menjejali kekosongan mimpi yang tak terisi selama 20 tahun dengan makanan adalah jeritan putus asa untuk menambal lubang besar di hatinya dengan cara apa pun. Satu-satunya yang ia harapkan hanyalah ini: tidak cemas. Ia sangat merindukan ‘rasa nyaman’—serasa sejuta kali lipat dari perasaan saat musim dingin mengupas jeruk di bawah selimut sambil membaca komik.
Byun Eun-ah mengalami mimisan saat berada dalam tekanan ekstrem. Ketika mimisan itu pecah, arloji emosi menampilkan diagnosis ‘tak teridentifikasi’, namun di baliknya tersembunyi pola emosi: marah 43, putus asa 20, frustrasi 16, sedih 12, dan kerinduan 9. Emosi yang tak ia kenali itu bermula dari sang ibu—orang pertama yang memberi ‘tanda silang’ padanya lalu pergi. Suatu hari ayah meninggalkan rumah, hari lainnya ibu pergi, tetapi Eun-ah kecil yang berusia 9 tahun tetap berangkat ke sekolah seolah tak terjadi apa-apa. Meski dadanya berdegup tak karuan sampai-sampai ia tak tahu di mana letak hatinya, ketakutan akan ketahuan bahwa ia ditelantarkan membuatnya makan dan tidur sendiri sambil menahan sunyi yang mencekam. Itulah mengapa kata ‘ibu’—yang bagi sebagian orang mungkin bagai pagar hangat—terasa seperti kata sifat yang terlalu dibesar-besarkan bagi Byun Eun-ah.
Namun ketika berada di sisi Hwang Dong-man, bahkan nyeri kronisnya mereda bak sihir. Mimisan yang meletup di ujung rasa sakit seolah-olah tubuhnya tercabik itu, saat bersamanya, lenyap begitu saja seperti simpul yang terikat rapat perlahan terurai. Sensasi sakit yang menyiksa hilang seketika, dan kekosongan itu diisi oleh dua huruf: ‘lega’. Karena emosi bukan sesuatu yang bisa diubah dengan kemauan semata, momen-momen seperti berlari sekencang-kencangnya bersama melintasi zona sekolah demi mengalihkannya menjadi ‘kebahagiaan pemecahan rekor’, atau saat ia menerima telepon dari Byun Eun-ah yang mimisan lalu menenangkannya dengan menceritakan ‘cara menghadapi ketindihan’—bahwa jika tidak dihiraukan, ia akan mundur—telah menjadi penghiburan baginya.
Kisah penebusan keduanya kian dinantikan: dua orang yang paling transparan membagikan dasar terdalam diri masing-masing, lalu menjadi satu-satunya ‘rasa lega’ dan ‘rasa tenteram’ bagi satu sama lain.
Sementara itu, ‘모자무싸’ tayang setiap Sabtu pukul 22.40 dan Minggu pukul 22.30 di JTBC, serta dapat disaksikan juga di Netflix dan TVING.