Seiring kesadaran sejarah publik meningkat pesat, cara pandang terhadap media pun menjadi jauh lebih tajam. Polemik akurasi yang mencuat dari sebuah drama yang baru saja tamat kembali membuktikan betapa ketatnya standar sosial terhadap representasi sejarah dalam drama.
Polemik terjadi pada adegan upacara penobatan Pangeran Agung Ian (diperankan Byeon Woo-seok) di episode 11 MBC drama Jumat–Sabtu Tuan Putri Agung Abad ke-21 yang tayang pada 15 Mei. Dalam cerita, para pejabat meneriakkan 'manse'—sebuah idiom klasik yang lazimnya ditujukan kepada kaisar—alih-alih 'cheonse' yang digunakan dalam tata upacara negara bawahan. Namun sang raja justru mengenakan 'guryu myeonnyugwan (九旒冕旒冠)', mahkota untuk negara bawahan, bukannya 'sibiryu myeonnyugwan (十二旒冕旒冠)' yang merupakan busana kaisar, sehingga menimbulkan ketidakselarasan dalam akurasi sejarah. Usai penayangan, penonton mengecam keras dengan komentar seperti "Ini distorsi sejarah yang serius" dan "Memalukan karena bahkan riset dasar pun tidak dilakukan", bahkan muncul seruan agar karya tersebut dibatalkan.
Seiring meluasnya polemik dan muncul opini publik agar dana dukungan pemerintah yang masuk ke drama tersebut ditarik, Komisi Penyiaran Media dan Telekomunikasi (방미통위) pada 20 Mei merilis klarifikasi resmi. Pihak 방미통위 menegaskan, "Total dana yang diberikan untuk drama ini hanya sebesar 3,1 juta won, mencakup biaya tiket pesawat dan akomodasi untuk satu orang perwakilan yang menghadiri presentasi investasi luar negeri," seraya menambahkan, "Ini murni biaya partisipasi acara, bukan biaya yang mendukung produksi drama itu sendiri."
Pada akhirnya pihak MBC pun menundukkan kepala. Dalam pernyataan resmi pada 22 Mei, MBC mengumumkan telah memutuskan untuk menghapus total adegan bermasalah di episode 11. Pihak stasiun menjelaskan, "Karena kami harus menerapkan versi revisi pada VOD dan berbagai platform OTT, penyelesaiannya akan memakan waktu beberapa hari."
Namun pandangan publik terkait isu ini masih terbelah tajam. Di papan pesan pemirsa, suara yang menentang pembatalan juga menguat. Warganet yang menolak berpendapat, "Tuan Putri Agung Abad ke-21 bukan karya sejarah, melainkan fantasi modern belaka", "Ini jelas dunia fiksi; menempelkan label distorsi sejarah atau bingkai proyek Sinisasi berlebihan", serta "Demi menjaga nilai kultural drama, mohon tim produksi menanggapi secara aktif"—membela karya tersebut sehingga polemik diperkirakan belum akan mereda dalam waktu dekat.
Ini bukan pertama kalinya K-drama mendapat kecaman keras publik saat mengangkat fakta atau latar sejarah. Contoh yang paling menonjol adalah SBS Joseon Exorcist, tvN Mr. Queen, dan JTBC Snowdrop.
Joseon Exorcist yang tayang pada 2021 menggambarkan pertarungan melawan roh jahat berlatar era Joseon, namun karena distorsi sejarah yang parah dan penggunaan properti bercita rasa Tiongkok secara serampangan, drama ini dihantam gerakan boikot kuat dari penonton dan mengalami kejadian luar biasa: dibatalkan total hanya setelah dua episode. Di tahun yang sama, Mr. Queen juga diterpa polemik distorsi sejarah di awal penayangan sehingga tim produksi menyampaikan permintaan maaf resmi dan merevisi total penggambaran fiktif terhadap tokoh-tokoh nyata. Meski berhasil secara rating dengan mencapai kisaran 17% di episode terakhir, layanan streaming sempat dihentikan pasca tamat, namun kini kembali tersedia di TVING dan Netflix.
Snowdrop, yang sangat dinantikan karena dibintangi Jisoo BLACKPINK dan aktor Jung Hae-in, sudah menuai kekhawatiran bahkan sebelum tayang bahwa drama tersebut bisa mendistorsi periode Gerakan Demokratisasi 1987.
Kisah romansa antara tokoh pria yang merupakan mata-mata Korea Utara dan mahasiswi yang membantunya dikhawatirkan memuliakan mata-mata Korea Utara dan melegitimasi 'bingkai mata-mata' yang kala itu ditempelkan rezim diktator terhadap gerakan pro-demokrasi. Pihak JTBC menyebut kekhawatiran tersebut sebagai "spekulasi yang tidak sesuai dengan niat produksi" dan tetap menayangkannya, tetapi sepanjang penayangan muncul kontroversi glorifikasi Badan Intelijen Keamanan (ANGIBU) serta penarikan iklan oleh para pengiklan; pada akhirnya rating pun bertahan di kisaran satu digit dan drama itu tamat dengan pahit.
Kini, penonton tidak lagi hanya terpaku pada popularitas aktor atau sensasi dramatik semata. Mereka menilai dengan tajam tanggung jawab sejarah yang terkandung dalam karya dan ketepatan akurasinya. Mengingat daya sebar media telah menembus lintas batas ke pasar global, bukankah sudah sepatutnya para kreator dan aktor menyadari besarnya tanggung jawab sosial dan mengemban produksi karya dengan kesadaran tersebut?