K-SNAPP

'Perfect Crown' jelang tamat kembali ricuh… menuju akhir di tengah kontroversi distorsi sejarah dan akting

'Perfect Crown', sukses global namun kontroversi distorsi sejarah kian meluas

IU, Byeon Woo-seok, sejarah, distorsi, kontroversi, monarki konstitusional, cheonse, myeonnyugwan, upacara minum teh, China, Perfect Crown
Foto: MBC 'Perfect Crown'
IU, Byeon Woo-seok, sejarah, distorsi, kontroversi, monarki konstitusional, cheonse, myeonnyugwan, upacara minum teh, China, Perfect Crown
IU, Byeon Woo-seok, sejarah, distorsi, kontroversi, monarki konstitusional, cheonse, myeonnyugwan, upacara minum teh, China, Perfect Crown
Foto: MBC 'Perfect Crown'

Drama MBC Perfect Crown kembali dihantam badai besar jelang penayangan episode terakhir. Meski meraih kesuksesan berkat sorotan tinggi dan rating kuat, isu distorsi sejarah kembali mengemuka sehingga suhu perbincangan seputar karya ini mendadak memanas. Ditambah lagi, perdebatan soal akting, keajegan alur, dan gaya penyutradraan kembali disorot, membuat kontroversi seakan terus mengikuti hingga penghujung siaran.

Pusat kontroversi ada pada adegan upacara penobatan raja di episode 11 yang tayang pada 15 Mei. Pemirsa mengkritik kemunculan ungkapan yang dianggap tidak selaras dengan simbol negara berdaulat dalam karya berlatar monarki konstitusional. Dalam proses naik takhta Ian Daegun (diperankan Byeon Woo-seok) digunakan istilah "cheonse" alih-alih "manse", dan jenis mahkota bernama "myeonnyugwan" juga dinilai bertentangan dengan latar yang ditetapkan. Selain itu, pada adegan pertemuan Seong Hee-ju (IU) dan Yoon I-rang (Gong Seung-yeon) muncul arahan yang mengingatkan pada upacara minum teh ala Tiongkok, sehingga kritik makin meluas. Ditambah lagi, cara penulisan linimasa di situs resmi drama disebut tidak sesuai dengan setting, membuat polemik melebar dari sekadar kekeliruan riset menjadi persoalan cara pandang terhadap sejarah.

Menanggapi hal ini, sebagian pihak bahkan menyebut kemungkinan melayangkan aduan ke Komisi Standar Komunikasi Korea. Di tengah meningkatnya kekhawatiran soal perampasan budaya oleh negara lain, banyak yang menilai drama Korea ini justru memakai sistem simbolik yang terkesan merendahkan diri sendiri. Opini publik pun terbentuk bahwa sulit membiarkannya berlalu hanya sebagai unsur fantasi belaka.

Perfect Crown sejak awal penayangan memang memantik harap sekaligus waswas. Berbekal duet bintang kuat IU dan Byeon Woo-seok, serial ini menyita perhatian besar bahkan sebelum rilis, dan secara angka juga mencetak hasil menonjol. Episode 1 yang tayang pada 10 bulan lalu meraih rating 7,8% (menurut Nielsen Korea), melampaui drama kompetitor Kantor Hukum Shin I-rang. Seiring berjalannya episode, rating terus menanjak hingga episode 11 pada 15 Mei menembus 13,5%. Dalam riset FUNdex dari Good Data Corporation, drama ini meraih peringkat 1 terpadu di seluruh indikator viralitas seperti berita, video, dan VON (Voice of Net). Di Disney+, selama 28 hari sejak perilisan, serial ini menjadi tayangan Korea yang paling banyak ditonton di pasar global (di luar wilayah Asia-Pasifik). Namun bersamaan dengan itu, tak sedikit yang menilai kurang pada tone akting para pemeran utama, bangunan emosi, tempo penceritaan, hingga daya yakinkan dari semestanya.

Di tengah reaksi berlapis terhadap karya ini, kabar bahwa wawancara penutupan hanya akan dilakukan oleh sutradara Park Joon-hwa tanpa kehadiran para pemeran utama maupun pendukung kembali memunculkan tafsir baru. Lazimnya, makin ramai sebuah karya, makin banyak pula wawancara penutup dengan para aktornya. Namun kali ini hanya sang pengarah yang akan tampil di muka publik. Karena itu, muncul dugaan di dalam dan luar industri bahwa ini adalah pilihan yang mempertimbangkan penilaian yang terbelah dan potensi pertanyaan sensitif terkait karya tersebut.

Perfect Crown kini menyisakan episode final yang tayang hari ini (16). Serial yang telah menjadi sorotan sejak pra-tayang ini pada akhirnya akan tercatat sebagai karya yang menghadirkan rasa campur aduk. Meski perhatian publik dan capaian komersialnya jelas, tambahan polemik tentang akting, naskah, penyutradaraan, serta distorsi sejarah membuat kesan akhir terasa jauh dari ringan. Seusai penayangan terakhir, perhatian tertuju pada penjelasan dan sikap apa yang akan disampaikan sutradara Park Joon-hwa, serta seperti apa evaluasi akhir yang akan disematkan pada karya ini.