K-SNAPP

"Ketidaktahuan saya"... Sutradara Park Joon-hwa menundukkan kepala atas kontroversi pemutarbalikan sejarah 'Perfect Crown'

Sutradara Park Joon-hwa kembali meminta maaf atas kontroversi 'Perfect Crown'

Park Joon-hwa, Wawancara, IU, Byeon Woo-seok, Sejarah, Keakuratan sejarah, Kontroversi, Permintaan maaf, Perfect Crown
Foto: MBC, Kakao Entertainment

Sutradara Park Joon-hwa, yang mengarahkan drama MBC Perfect Crown, menyampaikan permintaan maaf langsung terkait tuduhan pemutarbalikan sejarah dan masalah akurasi historis yang menyelimuti karya tersebut.

Pada tanggal 19, wawancara penutup untuk Perfect Crown digelar di sebuah kafe di Samcheong-dong, Jongno-gu, Seoul. Sebelum memasuki sesi tanya jawab, Park Joon-hwa berdiri dan menundukkan kepala seraya berkata, "Atas ketidaknyamanan dan kekecewaan yang dirasakan pemirsa, saya sebagai perwakilan tim produksi merasa paling bertanggung jawab." Ia menambahkan, awalnya berharap drama ini bisa menghadirkan hiburan dan penghiburan bagi penonton, namun justru menimbulkan berbagai ketidaknyamanan—sesuatu yang menurutnya tidak ada alasan pembenarannya.

Sang sutradara juga mengungkapkan penyesalan mendalam kepada para aktor yang telah bersama menggarap proyek tersebut. Park berkata, "Saya merasa bersalah karena seolah-olah upaya dan kasih sayang yang dicurahkan para aktor malah berujung pada kesulitan dan beban yang lebih besar," ungkapnya, menyampaikan perasaan pilu. Seiring kontroversi merembet keluar dari ruang karya, para aktor pun, tanpa sengaja, ikut terseret ke pusat kritik—sesuatu yang diterimanya dengan berat hati.

Ia menjelaskan pula titik awal lahirnya drama ini. Menurut Park, penulis naskah Yoo Ji-won memiliki kecintaan besar pada negara bernama Joseon dan romansa istana, lalu memulai kisahnya dari imajinasi: andaikata tak ada sejarah kelam seperti pendudukan Jepang atau intervensi asing, mungkinkah Dinasti Joseon bertahan hingga 600 tahun? Dalam bingkai itu, mereka ingin menggambarkan kisah cinta antara seorang pangeran dari keluarga kerajaan dan perempuan rakyat jelata, serta menuturkan kebahagiaan sehari-hari yang sederhana, melampaui status atau ambisi. Namun, terlepas dari niat tersebut, Park mengakui seharusnya mereka menjelaskan dengan lebih ramah agar penonton bisa cukup memahami setting fiksi karya itu.

Terkait polemik akurasi historis, ia menjelaskan problem muncul karena arahan konsultan sejak awal disesuaikan dengan Dinasti Joseon. Park mengungkapkan bahwa kostum, seni rupa, dan upacara kerajaan dirancang mengikuti kerangka Joseon, bukan dalam konteks sejarah setelah berdirinya Kekaisaran Korea (Daehan Jeguk). Ia sendiri mengakui menerima konsep "Republik Korea dengan monarki konstitusional di abad ke-21" sebagai romansa fantasi, sehingga luput mengulas bagian itu secara mendalam. Pada akhirnya, ia menilai tidak meneliti dengan cermat titik pertemuan antara pemahaman sejarah nyata dan dunia imajinatif drama menjadi kelemahan paling krusial.

Park Joon-hwa, Wawancara, IU, Byeon Woo-seok, Sejarah, Keakuratan sejarah, Kontroversi, Permintaan maaf, Perfect Crown
Foto: MBC

Puncak kontroversi terjadi pada adegan penobatan Pangeran Ian. Di dalam drama, Pangeran Ian yang diperankan Byeon Woo-seok tidak mengenakan sibimyeonryugwan—mahkota yang lazim dipakai kaisar negara berdaulat—melainkan guryumyeonryugwan yang lebih menyerupai mahkota penguasa negara vasal, sementara para pejabat berseru "cheonse" alih-alih "manse". Ditambah lagi adegan yang mengingatkan pada tata cara minum teh ala Tiongkok, isu ini melebar dari sekadar kesalahan akurasi menjadi tudingan pemutarbalikan sejarah dan bahkan memantik kontroversi Proyek Timur Laut (Dongbuk Gongjeong). Menanggapi hal ini, Park menyalahkan dirinya, menyebut, "Itu karena ketidaktahuan saya," dan menyesal karena gagal merefleksikan simbol-simbol kemandirian dalam sejarah kita secara tepat. Ia menggambarkan situasi saat itu seolah-olah dirinya "terperosok ke dalam rawa" saking kacaunya perasaannya.

Ia juga mengungkap pernah berdiskusi dengan penulis mengenai masalah tersebut. Park berkata, "Kami sama-sama menyayangkan. Penulis pun sangat terpukul," seraya menambahkan bahwa ia terus memikirkan dengan penyesalan mengapa hasilnya menjadi seperti ini. Karena keputusan di lapangan dan interpretasi atas setting akhirnya menimbulkan ketidaknyamanan besar bagi penonton, ia menegaskan menerima tanggung jawab atas konsekuensinya dengan sangat berat.

Di penghujung wawancara, sutradara Park Joon-hwa bahkan menitikkan air mata. Ia mengenang seorang lansia yang dulu tampak bahagia menonton drama lewat ponsel, lalu berkata, "Saya sangat menyesal karena bahkan kepada penonton seperti itu pun, yang tersisa bukanlah penghiburan melainkan ketidaknyamanan."

Meski menuai hasil dari sisi popularitas dan rating, permintaan maaf kali ini kembali menegaskan besarnya bobot kontroversi yang menyelimuti drama tersebut, karena kesan yang ditinggalkannya jelas tidak ringan.